Tuesday, October 25, 2011

Review: Love Exposure





 

Iseng melihat film di folder 'Sion Sono', judul Love Exposure tidak terkesan sebagai film sakit jiwa yang penuh darah (contoh film sakit jiwa om Sion Sono adalah Suicide Club). Tak ada ekspektasi apa-apa, gw skimming lah 30 menit awal. Kok lucu ya? Baiklah, mulai dari awal.

CD 1 selesai. Durasinya 1,5 jam. Hmm, palingan CD 2 cuma 30 menit. Play. WHAT? CD 2 durasinya 2,5 jam!! Total durasi film ini EMPAT jam??????????? Film macam apa ini?

Tangan gatel pengen gugling tapi gw gak mau baca spoiler. Lanjutin teruuuus sampe abis. Dan ketika credit title akhirnya muncul, gw menghela nafas panjang. Bukan karena bosan, tapi karena emosi selama empat jam diaduk-aduk bagai adonan donat. 

Kira-kira begini. Naik mobil di jalanan mulus, tiba-tiba jalanan penuh batu kerikil, tanjakan tajam, tikungan sana-sini, dan lo ingin berteriak "MAU DIBAWA KEMANA, GW?". Di depan tidak ada pemandangan apa-apa. Gak ada papan penunjuk. Tiba-tiba di hadapan lo terbentang jurang. Jatuh.

Di bawah ini mungkin spoiler, mungkin nggak.

Yu (Takahiro Nishijima) hidup di keluarga penganut kristen taat. Saat ibunya meninggal, ayahnya, Tetsu, menjadi pendeta. Seorang perempuan lain, Kaori, datang dan menjadi kekasih ayahnya. Mereka berdua diam-diam menjalin hubungan sampai Kaori bosan dan meninggalkan Tetsu. Depresi, Tetsu memaksa Yu mengaku dosa setiap hari. Yu yang sebenarnya anak baik-baik terpaksa melakukan tindakan tak terpuji agar bisa mengaku dosa pada ayahnya. Yu pun berguru pada master panties-hentai bagaimana mengambil foto celana dalam wanita secara profesional.

Sampai bagian ini, filmnya lucu sekaligus rada ecchi. Backsound pun mendukung, musik-musik bernuansa ceria mengalun menghiasi scene-scene konyol saat Yu tersenyum puas setelah berbuat buruk demi menyenangkan hati ayahnya (dia dimarahin kalo bilang 'I don't do sinful thing today').

Dari luar, Yu terlihat seperti pervert master, tapi sebenarnya motivasinya melakukan itu hanya karena ingin berbuat dosa. Bukan karena pikirannya pervy. Yu tidak pernah bernafsu saat melihat foto celana dalam hasil jepretannya karena ia masih mencari siapa cintanya. Sampai ia bertemu dengan Yoko (Hikari Matsushima). Sayangnya Yoko membenci semua lelaki (kecuali Kurt Cobain dan Yesus) karena trauma masa kecil disiksa oleh ayahnya. Konflik dimulai saat seorang remaja psikopat manipulatif, Aya Koike, mulai menghancurkan kehidupan mereka. Tujuannya adalah menggiring keluarga Yu ke sekte sesat milik Koike. 

Saat nonton CD 1 gw udah pede mengkategorikan film ini komedi. Begitu masuk CD 2... salah besar. Gw ketawa, frustasi, takut, jijik, terpesona, sekaligus nangis. Empat jam tidak terasa membosankan karena alur filmnya cukup cepat. 

Kata kunci untuk tema yang muncul film ini adalah:

Keluarga. Agama (kristen). Sekte. Cinta. Pervert. Child abused. Psikopat. Realitas yang relatif. Manipulasi. Panties. Lesbian.

Walau bukan film horror, gw tetep deg-degan nontonnya. Menanti apa adegan yang akan disuguhkan. Sebenarnya cerita ini mengarah KEMANA? mau dibaaawa kemanaa hubungan kitaaa
Awal menonton, gw ikut bersimpati dengan Yu (Takahiro Nishijima) yang menyayangi ayahnya sampai ia rela belajar jadi orang mesum. Mungkin gw kuat berlama-lama nonton pelem ini karena Takahiro Nishijima maniiiiiiis sekali. Gw lupa pernah liat dia dimana, ternyata dia anggota AAA. Aih, udah cakep pinter nyanyi pula. Hikari Matsushima memang aktris yang berbakat. Gw udah ngeliat peran dia yang berbeda-beda, jadi anak baik, guru tk, berandalan, dan semuanya bagus.

Si pemeran jahat Koike, Sakura Ando, bener-bener minta dipites. Jahatnya luaaaaaaaar biasa. Dapet aja ya cast yang matanya licik-nyolot-jahat-nyebelin-kurang-ajar kaya dia. Kalo bikin penonton emosi, berarti akting dia bagus ya? Ya, bagus aja sih, peran jahat dikasih ke orang yang mukanya emang rada psikopat. Koike ini juga korban kekerasan orang tua (ayahnya). (Warning: Super spoiler. And disgusting.) Makanya waktu ayahnya kena stroke dan kebetulan ereksi, bisa tebak apa yang bisa seorang psikopat lakukan? Ya. Dipatahin dan digunting. Putus.

Tapi buat gw, peran jahat terbaik jatuh ke tangan Fukuda Saki, di dorama LIFE. Cantik banget (lebih cakep dari pemeran utamanya) tapi jahat. Bukan jahat ala sinetron yang mengandalkan gerak otot wajah berlebihan. Fukuda Saki tetap tampil cantik dan baik hati walau jahat. It's scarier.

Love Exposure mengajak kita melihat satu cerita dari beberapa chapter dengan sudut pandang dan narasi dari orang yang berbeda. Empat jam yang luar biasa. Satu film yang gak bisa dikategoriin ke satu genre saja. Kemungkinan besar lo akan berkali-kali bergumam 'sakit jiwa' sambil menggeleng-geleng melihat karya Sion Sono ini. Gila emang ni orang, bisa aja kepikiran cerita aneh absurd kaya gini. Sakit jiwa...

3 comments:

Yuni Winingsih said...

mau ya nien

purisukareviews said...

wah gw juga baru nonton ini bbrp minggu yg lalu. Komentar buat film ini: EPIC. awalnya rada ragu mau nonton karena 4 jam aja gitu, tapi eh ternyata 4 jam itu gak kerasa ya. dan bener, film ini bener2 ngaduk emosi banget :D

dan iya, Takahiro Nishijima itu maniiis banget. Gw jadi nyari2 dan mulai ngefans sm AAA gara2 liat dia di film ini, hehe.

Rizuka said...

ehhh ada purisuka :D

 
design by suckmylolly.com