Sunday, October 2, 2011

20th Century Boys

Bulan-bulan pertama membuat blog ini, gw membaca komik 20th Century Boys punya Riju. Begitu baca, kepala gw pusing gak ngerti jalan ceritanya. Komik itu pun terlupakan.

Empat tahun kemudian, waktu baru selesai menonton Moteki, gw menelusuri filmografi Moriyama Mirai. Tertulis 20th Century Boys disana. Layaknya efek bola salju, saat tertarik sama seorang aktor, gw akan mencoba menonton film-film yang dibintangi olehnya. Dari Moteki, berlanjut ke 20th Century Boys.

Dengan kata pengantar dari Rizu (Komiknya bagus banget. Pokoknya tentang konspirasi gitu deh. Kaya Islam dan barat di dunia nyata.Tapi gw belom nonton filmnya karena suka banget komiknya.) gw meniatkan diri menonton trilogi film ini.


Tak kenal maka tak sayang.
Gak sekali ini gw beralih pendapat. Dari males, jadi suka. Let's say Haruma Miura. Dulu gw kata-katain abis-abisan karena dia selalu dapet peran cowo brengsek, ngehamilin cewe, cowo sok cool (di Bloody Monday). Alasan utama gw males banget sama dia karena alisnya dicukur. Alis cowok sejati, menurut gw, harus dibiarkan apa adanya. Gak boleh banget dibentuk-bentuk. Makanya, gw sebel kalo si Sho nyukur alis. Kembali ke Haruma Miura. Tiba-tiba gw nonton Kimi ni Todoke. Ketika alis Haruma Miura tertutup oleh poninya, gw bisa melihat dengan jelas bahwa dia manis dan keren sekali aktingnya (akhirnya ngeliat dia ketawa, di pelem lain dia sendu melulu)!

Ya, ya, kita memang harus melihat semuanya dari dekat sebelum memutuskan: suka atau benci. Rizu always does better job than me at that aspect. Dia dan Yuni punya bakat seperti om Johnny untuk mengaudisi bocah-bocah cowo yang punya potensi bakat tampan buat jadi artis.

Okeh, back to 20th Century Boys.
Cerita singkatnya adalah: Kenji dan kawan-kawan (bocah-bocah di gambar atas) waktu kecil berkhayal dan membuat buku ramalan tentang menjadi penyelamat bumi dari teror-teror. Beberapa puluh tahun kemudian, ramalan mereka menjadi kenyataan. Siapa pelaku yang mewujudkan buku ramalan itu?

Ada sebagian orang yang menyayangkan betapa film ini tidak sebagus komiknya. Para penggemar komiknya kecewa dengan versi live action ini. Untunglah, gw berada di kubu sebaliknya. Yang tertarik dengan komik setelah menonton filmnya. Jadi yaaah, istilahnya, liat versi jeleknya, terus upgrade ke versi yang lebih bagus. Tapi bukan berarti filmnya jelek ya, menurut gw keren banget. Nget. Nget. Anak komunikasi pasti suka deh, karena konspirasi-konspirasi yang ada di film ini mengingatkan kita tentang kuliah media massa. Yang berkuasa, yang menentukan jalannya dunia.

Nah, setelah baca komiknya, makin takjub sama komik dan film ini. Jenius. Buat orang-orang macem gw yang males baca cerita rumit, menonton filmnya sangat membantu memahami inti cerita. Tak seperti dulu, sekarang gw dengan lancar makin bersemangat membuka halaman demi halaman untuk mengetahui versi orisinilnya.

Yang ingin gw berikan tepuk tangan meriah adalah bagian-bagian seperti:

  • Aktor-aktor berkualitas seabrek-abrek dijejelin di pelem ini. Siapapun itu, mukanya familier banget karena mereka udah sering muncul di berbagai dorama yang gw tonton. 
  • Wajah pemeran komik dan live action banyak banget yang mirip. Hampir semuanya. 
  • Wajah aktor saat dewasa dan versi mereka masih kecil, mukanya luar biasa persis. Salut lagi buat orang yang nge-casting. Great job.
Secara garis besar, cerita di film banyak dibuat berbeda -dengan inti yang sama-. Mungkin ini yang menjadi kekecewaan dari fans komiknya. Tapi maklum aja sih, kalo mau dibikin persis, tiga film aja gak cukup panjang. Alur film dibuat lebih simpel dari komik, seperti misalnya (spoiler alert, highlight saja kalo mau tau) Tomodachi sejak awal memang Katsumata yang berpura-pura jadi Fukube. Sedangkan di komik, Tomodachi diperankan oleh dua orang

Di bagian epilog, (komik 21st Century Boys, dua volume) di film ketiga setelah credit title, ada sedikit ending yang berbeda. Gw sendiri lebih suka epilog versi film. Lebih manusiawi buat si Tomodachi.

Anyway, pesan yang gw tangkep dari film dan komik ini adalah:
  • Apa yang terjadi di masa kecil dapat memengaruhi seseorang hingga ia dewasa.
  • Orang menjadi jahat pasti ada alasannya. Masa lalu suram, dendam, dsb.
Makanya, hati-hati kalo ngomong atau memperlakukan anak kecil. Secara tidak langsung, ucapan atau tindakan kita bisa membentuk masa depan si anak. Mungkin kita akan lupa, tapi si anak bisa aja masih tetep inget sampe dia dewasa.

***

Gw inget satu kejadian,
sepupu gw yang lucu dan lebih muda dateng ke Jakarta (TK atau kelas 1 SD). Gw saat itu kelas 3 SD. Bokap nyokap lagi pergi haji. Tumpuan gw cuma kakak-kakak. Suatu hari, kami semua pergi ke pertokoan. Sepertinya gw lagi berantem sama Kangin, 16 tahun, sampe gw menuntut,


Jadi lo gak sayang sama gw?


Dia menjawab, dengan tengil dan meyakinkan, 

Ya gak lah! Gw sih sayangnya sama si X (sepupu gw) karena dia lebih lucu.


Si Kangin dimarahin Teteh. Gw, felt left out, cuma bisa menahan tangis sambil ngeliat ke luar jendela mobil. Menatap Kramat Jati di malam hari. But it hurted me so bad. Walau teteh udah mencoba menghibur, gak ngaruh. Saat itu gw mikir, oh-yeah-gw-gak-disayang.

Kalo dipikir lagi sih, namanya juga anak belasan tahun -not to mention tengil-, omongannya emang ngasal ya. But see, heyy, I still remember it so clearly. Gw jamin seribu persen, si Kangin gak akan inget sama sekali. 


Tapi itu salah satu bukti bahwa, seremeh apa pun itu, anak kecil bisa mengingat.


Jangan-jangan itu yang bikin sampe sekarang gw gak terlalu akrab sama Kangin.

2 comments:

Rizuka said...

wow wow, udah selese nih bacanya?

iya banget ya, berarti jadi guru sd bener2 punya tanggung jawab besar

Rizuka said...

muahahaha baru ngeh ada postingan 4 tahun lalu ttg 20th boys lol

 
design by suckmylolly.com