Sunday, February 6, 2011

Pegang atau Cium?

Saya sudah 21 tahun, tetapi saya anak bungsu.
Saya terbiasa bertingkah laku seperti anak bawang, dianggap anak kecil yang tidak terlalu penting, dicuekin saat acara keluarga (anak kecil biasanya main sendiri), bersikap pasif di depan saudara-saudara tua yang jauh dan tidak akrab, berlindung di ketek mama (oke, berlebihan).

Saya bingung nih. Umur 21 sih katanya masih golongan remaja tua atau beranjak dewasa muda. Bagaimana saat berhadapan dengan situasi ketika kita harus menyalami orang yang lebih tua? Tidak selalu yang sudah 40 tahun ke atas, bisa saja yang 8 tahun lebih tua. Apakah sudah boleh hanya menyodorkan tangan saja, atau harus cium tangan?

Dilema. Saat berkenalan dengan teman-teman kakak saya yang usianya terpaut belasan tahun lebih tua, saya bingung harus memposisikan diri sebagai orang dewasa (muda) atau sebagai adik bungsu? Kalau sebagai adik bungsu, rasanya lebih tepat cium tangan. Tapi, rasanya udah saatnya saya beranjak dari gaya salaman anak SMA jadi gaya salaman anak kuliahan yang udah berlagak dewasa. Bingung kan?

Terkadang saya mengandalkan orang yang akan saya salami, bila dia mengarahkan tangannya ke atas, yowes saya cium. Tapi kalau dia menyodorkan lurus, ya sudah kita salaman biasa aja ya. Kadang tambah cium pipi kanan pipi kiri (kalo saya sudah mandi). Ah, tapi biasanya para ibu-ibu muda/ mahasiswa lain jika bertegur sapa saling cium pipi! Hmm... Sejujurnya saat ini saya menganggap cium pipi itu adalah basa-basi yang berlebihan. Mungkin karena tidak terbiasa. Di keluarga saya, ungkapan cupika cupiki jarang dilakukan. Ketika bertemu dengan orangtua setelah berpisah beberapa bulan pun, hal pertama yang saya lakukan adalah cium tangan dengan kilat dan bergegas ingin membongkar oleh-oleh. Berdarah dingin? Mungkin saya aslinya pemalu ya *blush*

Yang pasti, orang yang wajib saya cium tangannya adalah orangtua dari teman-teman saya. Sepertinya dulu saya jarang melihat teman-teman kuliah bercium tangan dengan orangtua saya, ah, tapi di depan orang tua teman, saya merasa kembali jadi anak SD.

Cium Pipi Kanan Cium Pipi Kiri

Waktu kecil, saya menganggap orang yang bertemu dan bercupika cupiki itu orang dewasa. Perasaan haru biru menerpa ketika teman kuliah teteh (saat itu saya 7-8 tahun) datang ke rumah dan mencium pipi kiri-kanan saya saat menyapa. Saya merasa 'saya dewasa!' saat itu).

Saat kemarin wisuda, ketika orang lain mengucapkan selamat sambil peluk dan cium pipi, terkadang saya hanya nyengir kuda dan bersalaman saja. Padahal orang yang disalami sudah siap menyodorkan pipi dan ingin dipeluk. Terkadang saya canggung bercupika cupiki dengan teman yang tidak terlalu akrab. Dengan yang akrab pun kadang 'malas', contohnya Riju. Seingat saya, selama enam tahun ini saya tidak pernah atau jarang sekali bercupika cupiki. Kawan saya sejak SMP, Bebek, juga bersikap biasa saja saat kita berjumpa setelah tiga tahun tak bertemu. Dia mungkin bisa menilai tingkat kerinduan dan excited saya dengan cukup mendengar intonasi saat saya memanggil namanya. Ada juga seorang teman yang kesampaian mimpinya untuk berkencan dengan idolanya, Wheesung, di Korea Selatan. Saat mengantarnya di bandara, saya tidak ingat apakah saya bercupika cupiki dengannya (kayaknya gak yah May?). Sepertinya, semakin dekat saya dengan orang itu, semakin sedikit kemungkinan saya bercupika cupiki (kalo sedang congratulate dia). Saat teman-teman sedang antri cupika cupiki, mungkin saya hanya akan teriak 'Selamat yaaaa' sambil berjoget-joget tanda turut senang.

Mungkin basa-basi sudah gak perlu buat saya. Yang penting orang yang saya salami atau selamati tahu perasaan saya, lihat saja dari mata yang berbinar dan senyum yang lebar.

Bagaimanapun juga, sudah umur segini tidak mungkin tidak bercupika cupiki. Saya akan tetap bercium-ciuman pipi (atau sekedar menempelkan lemak pipi) bila bertemu kawan-kawan lama yang memang biasa bercupika cupiki tanda melepas rindu. Cupika cupiki juga bisa dilakukan dalam konteks 'bukan basa-basi', misalnya sudah tidak berjumpa beberapa tahun.

Buat saya sendiri, bila lama tidak berjumpa, daripada cium pipi basa-basi, lebih baik mendengar kata ''woy!'' yang tulus.

Ah, atau mungkin saya berdarah dingin ya? :)

Oh, tapi jika (Ya Allah kabulkanlah) saya bisa bertemu dengan Arashi, khususnya Sakurai Sho, sudah pasti saya mengharapkan kontak lebih dari sekedar cupika cupiki misalnya mengelem diri sendiri pake power glue ke badan Sho biar ga usah berpisah.

3 comments:

nyanya - mightybangs said...

khusus sama gue kan salam T**e. hahahahahaha!

tapi gue juga bingung sih nien di usia segini mau cium tangan apa salaman aja sama sodara yang bedanya ga terlalu jauh. kalo gitu palingan gue liat dari struktur keluarga aja. kalo dia anak uwak atau siapapun itu yg lebih tua dr org tua gue, gue akan cium tangan.

Yuni Winingsih said...

gw kayaknya lebih suka cium tangan deh nien ihihi
eniwei, gw jg anaknya suka kaku2 gimana gitu kalo disuruh cipika cipiki, bkn gimana ya, gw sih suka gak mau menularkan minyak muka soalnya kesian kan yang menerima cipika-an gw gitu heheheh
kalo bisa elus jenggot, elus jenggot aja deh, geli2 gimana gitu ya paling

*amit2 jenggotan

Nien said...

@nyanya: iya kalo uda uzur mah disalamin wae. tapi kaya kalo masih muda gitu ibu2 bapak2 muda gw sih salam biase aje

@yuni: hahaaha gw biasa cupika cupiki kalo ditarik aja mukanya. yasudahlah ya lebi enak cupika cupiki ama arashi. wangi dan tampan

 
design by suckmylolly.com