Tuesday, March 20, 2012

Into The White Night: Review


Adalah versi film dari Byakuyakou yang juga disadur dari novel. Tampaknya novel ini sangat laku untuk diadaptasi karena Korea pun telah mengeluarkan versi filmnya dengan judul White Night

Berawal dari iseng-iseng membaca review Shokuzai di Indowebster, eh katanya dorama Byakuyakou juga lumayan menyesakkan jiwa. Plotnya pun menarik: Kedua anak kecil saling melindungi satu sama lain dengan cara membunuh orang tua mereka. Ryouji dan Yukiho memiliki persamaan, anak kecil yang hidup di lingkungan keluarga yang tak ideal. Ibu Yukiho seorang pemabuk. Ibu Ryouji berselingkuh dengan pegawai di rumahnya. Sementara ayah Ryouji ternyata pedofil, korbannya adalah Yukiho yang 'disewakan' ibunya. Ryouji tak sengaja melihat ayahnya berbuat tak senonoh pada Yukiho, tanpa pikir panjang ia menusuk ayahnya dengan gunting.. sampai mati. Yukiho ingin melepaskan Ryouji dari tuduhan dengan memanipulasi ibunya (seakan) bunuh diri, untuk memberi kesan bahwa ibunya lah yang membunuh ayah Ryouji. Tahun demi tahun berlalu, keduanya bertahan sampai batas kadaluarsa kasus. Sementara itu, seorang detektif tetap gigih mencari fakta sebenarnya. Ryouji dan Yukiho berusaha melindungi diri mereka dengan segala cara, termasuk berbuat keji... pada siapa saja yang dapat mengungkap jati diri mereka.

Versi Drama:

Ada peringatan untuk tidak menonton banyak episode sekaligus demi ketentraman jiwa. Bener aja sih, mood gw tersedot perlahan-lahan karena ceritanya agak bikin depresi. Demi kemaslahatan umat, nontonnya dicepetin 2-4 kali lipat. Kecepatan dinormalkan saat ada adegan yang super seru aja. 

Episode dibuka dengan scene final, Ryouji dewasa berlumuran darah. Yukiho pun pergi meninggalkan Ryouji yang sekarat sambil menahan air mata. Flashback.

Air mata banyak menetes saat menonton versi drama Byakuyakou. Pemeran Ryouji dan Yukiho saat masa kecil sempurna! Dilihat dari fisik, Yukiho kecil dan dewasa mirip sekali. Akting para anak kecil ini juga sangat bagus. Gerak-gerik gugup dari Ryouji kecil saat mencoba pedekate dengan Yukiho cukup menggemaskan. Yukiho kecil yang terlihat dingin pun lama kelamaan bisa tersenyum dan bermain bersama Ryouji. Pokoknya chemistry mereka super oenjoe. Ryouji yang periang menjadi murung saat Yukiho mendadak tak mau lagi bermain dengannya setelah mengetahui bahwa ayah Ryouji adalah om-om gatel yang paling ia benci. 

Mungkin karena durasi drama yang lebih panjang dari film, cerita bisa lebih dieksplorasi. 5 W 1 H di balik pertemanan Yukiho dan Ryouji dibahas tuntas. Ryouji (Yamada Takayuki) ingin melindungi Yukiho dengan segenap cara karena Yukiho (Ayase Haruka) telah menumbalkan diri (membunuh ibunya) demi menguatkan alibi Ryouji.  Yukiho segera pindah ke tempat lain dan berganti nama. Namun, aib masa lalu terkuak juga. Yukiho digencet oleh teman-temannya sebagai ‘anak dari pembunuh’. Ryouji tak sengaja bertemu dengan Yukiho beberapa tahun kemudian (sebelum mereka berpisah, mereka berjanji untuk bersikap tak kenal satu sama lain di masa depan). Pertemuan mereka cukup mengharukan dengan ‘kata sandi’ di masa lalu. Keduanya tetap berhubungan satu sama lain secara diam-diam. Ryouji mencoba membahagiakan Yukiho sekuat tenaganya dengan cara apapun, termasuk menculik tukang bully Yukiho, membiusnya, lalu memotretnya dalam keadaan tak berbusana. Semua itu direncanakan oleh Yukiho yang ingin membalas dendam. Dalam hati kecil Ryouji sudah ada keinginan untuk menyerahkan diri pada polisi. Namun Yukiho bersikeras untuk tetap 'bersembunyi' sampai kasus mereka kadaluarsa. Yukiho ingin menunggu sampai tiba saatnya ia dan Ryouji bisa hidup dengan bebas tanpa dikejar-kejar dosa masa lalu. Akting Ayase Haruka sebagai Yukiho jempolan! Ia bisa terlihat inosen dan juga menyeramkan di saat yang sama. Tanpa aksi angkat-angkat alis seperti ibu pejabat yang heran. Tanpa mata melotot berlebihan. Senyuman manis Yukiho (Ayase Haruka emang cantik banget kalo senyum) yang berganti wajah datar dengan sorot mata tajam penuh arti dalam hitungan detik membuat gw selalu deg-degan, apa lagi yang akan terjadi? Siapa yang akan dibunuh? Mau ngapain lagi Ryouji? Mau ngapain lagi Yukiho? Tim ini saling bahu membahu melukai/bunuh/perkosa orang yang berpotensi menguak kebenaran masa lalu. 

Yukiho dapat hidup dengan 'normal' dengan sokongan Ryouji. Ia menggelapkan uang demi membayar uang kuliah Yukiho. Sebaliknya, Yukiho juga sudah berencana membalas budi dengan menikahi temannya yang kaya raya tanpa cinta demi satu tujuan: mengembalikan Ryouji ke kehidupan normal lewat koneksi suaminya.

Sedih melihat mereka berdua sama-sama tidak bahagia demi menyenangkan satu sama lain.
Saat semuanya terlihat akan baik-baik saja, sang detektif mulai menemukan fakta-fakta yang menyedihkan dan mengejar-ngejar mereka agar menyerahkan diri pada polisi. Sang detektif (yang sebenarnya berniat baik) terlihat seperti antagonis di sini. Gw cuma pengen tereak, 'LET THEM ALONE, WILL YOU?'. Pokoknya tiap si detektif beraksi, mengintai, ngumpulin data, gw sebel banget. Ini orang gigih banget yak?

Jumlah pemain yang berinteraksi membentuk benang-benang merah jauh lebih banyak di drama (iya lah!). Eksistensi novel Gone With The Wind mempengaruhi masa depan mereka kelak. Ibu penjaga perpustakaan menjadi satu-satunya saksi mata dari eratnya persahabatan Yukiho-Ryouji. Ia bagaikan pengganti orang tua mereka, selalu mengawasi dan memberi nasehat. Takashi Kashiwabara juga tampil ganteng sebagai salah satu cowok yang ditaksir Yukiho (dan membuat Ryouji cemburu sampai edan).

Versi Film:
gambar diambil dari sini

Perubahan jaman dari masa mereka kecil, SMA, kuliah, sampai dewasa diwakili dengan setting, wardrobe, dan gaya rambut yang sempurna! Rasanya seperti melihat album foto si Mamah dari jaman belom nikah, baru nikah, punya anak dua, sampai diriku lahir. 

Menarik sekali rasanya menonton film ini karena banyak unsur yang berbeda dari versi doramanya. Alurnya kurang lebih sama. Beberapa tokoh tak ada, namun tak masalah karena ceritanya sudah dimodifikasi. Misalnya, lelaki yang dinikahi Yukiho dan lelaki yang disukainya (selain Ryouji) adalah dua orang yang berbeda, namun di film kedua karakter itu digabungkan dalam satu orang. Penokohan kedua karakter utama pun berbeda.

Ryouji di drama terlihat sisi humanisnya, panik saat berbuat kriminal, ingin menyerahkan diri pada polisi, cemburu buta saat Yukiho suka lelaki lain, ganas saat disakiti, dsb.
Gambar dari mysoju.com

Ryouji di film (Kora Kengo) digambarkan dingin, tak berekspresi seperti robot, hampa, nurut sama semua perintah Yukiho untuk menyakiti beberapa orang. Dalam beberapa scene, dia liar. Kengo emang cool gitu jadi semuanya sah-sah saja di mata gw.

gambar dari sini


Yukiho di drama adalah sosok yang ditindas. Dari luar terlihat manis, namun dendamnya luar biasa. Perubahan emosinya turun naik, namun ia bisa berakting menjadi super ramah pada semua orang. Manipulatif dari nangis-nangis sendu diakhiri dengan senyum manis devilish. 

Yukiho di film... Maki Horikita. Cantik, bener-bener cantik. Tapi, yahh seperti biasa komentar gw sama akting Hormak: datar. Oke, kebetulan di film ini emang digambarin datar. Lebih tepatnya elegan. Di film, lagaknya kaya tuan putri. Purrrfect. Manipulatifnya ditandai dengan ekspresi dan intonasi datar. Cantik tapi jahat. Tapi jahatnya itu diem banget lah ekspresinya. Lack of emotion. Kayaknya muka gw kalo lagi diem aja mengandung lebih banyak ekspresi daripada doi. Mungkin emang perannya harus seperti itu. Atau gw emang sensi aja sama aktingnya. Apa ya, pokoknya mukanya gitu-gitu aja. Senyum cantik, senyum cantik, suara datar (kaya intonasi kalo gw lagi nahan pup di jalan), muka datar, muka datar, muka datar, muka cantik. 

Interaksi Ryouji-Yukiho di drama: Saling berkorban satu sama lain. Yukiho kadang lebih keji dan memaksa Ryouji untuk mengikuti rencana jahatnya (yang kadang dilakukan setelah berantem protes dsb).

Interaksi Ryouji-Yukiho di film: Ryouji berkorban total, Yukiho 'sedikit' berkorban (menyetujui ide untuk ngebunuh ibunya), sisanya sih dia tinggal nyuruh Ryouji untuk ngelakuin ini-itu (yang dilakukan tanpa protes). Yukiho is the princess, Ryouji is the kacung.

Detektif di drama: Alamakkk agresif sekali. Penampakannya sih antagonis ya. Hubungan dia dengan Ryouji-Yukiho terlihat lebih dalam di sini. 

Detektif di film: Jinak-jinak merpati. Imej berwibawa om Funakoshi Eichiro rusak sama ingatan gw saat dia jadi guest star di acara Arashi. 


Begitulah. Gak perlu mikir berat saat nonton filmnya karena sudah paham inti ceritanya lewat drama. Kalo langsung hajar nonton pelemnya jadi rada mikir kali ye untuk ngerti plotnya. Ternyata Kora Kengo masih tetap mencari peran yang aneh-aneh. Gw pengen liat dia akting jadi lelaki idol gitu deh, gapapa deh cerita agak picisan yang penting cowo normal, bukan yang psikopat atau yang lidahnya bercabang (Snake and Earring). Ayase Haruka cocok berakting jadi apa pun, imut, bodoh, kaku, luwes, binal, maupun jahat. Yamada Takayuki aktingnya bagus! Gw cuma gak suka alisnya. Tebal (gak masalah) dan dibentuk (sangat masalah) Maki Horikita? Cantik. Akting? .... *mohon ampun pada fans HorMak*

2 comments:

Yuni W said...

gw mau nonton ah *penggemar setia review lo*

Nien said...

kora kengo menggiurkan loh

 
design by suckmylolly.com