Monday, March 26, 2012

Edisi Hardolin

Dahar. Modol. Ulin.
Makan. Pup. Main.

1. Edisi Geng Impulsif
Geng ini terdiri dari para manusia yang fleksibel dan mudah diajak bepergian dalam kurun waktu undangan kurang dari 24 jam. Kegiatan kami adalah makan, makan, dan makan. Sepertinya karena faktor U, kami lebih memilih makanan non fast food demi masa depan cemerlang. Mikir harga juga sih, nyehehe. Akhir-akhir ini restoran favorit kami adalah Ta-Won* (nama disamarkan karena bukan promosi) yang menyediakan menu bubur dengan harga terjangkau. Geng impulsif kadang didominasi oleh sekte program studi Periklanan yang tidak menderita penyakit deadline tulisan ala sekte jurnalisme :p




Edisi after party di Semanggi
Edisi Jurnal+Iklan setelah nobar One Day


2. Edisi Jurnalsista
Jurnalsista hampir lengkap
Makan-makan bareng jurnalsista ini diselenggarakan secara reguler. Pesertanya hampir selalu lengkap, sekelas datang, sebagian membawa pacarnya. Kompak? Hm, gw pikir ini lebih disebabkan faktor makan gratis (maacyih bang Mims~). Sungguh, iming-iming 'ditraktir' itu sangat memperkokoh tali silaturahmi. Sejauh apapun restorannya, tetap akan kusambangi :)) Pertemuan yang paling baru diadakan di Tjikini, kedai asing yang belum pernah gw lihat/dengar/rasakan. Berbagai cemilannya enak-enak! Misalnya pisang bakar dan singkong. Makanan beratnya? Hmm.. kalo bayar sendiri gw lebih memilih mengalokasikan semua duit ke cemilan aja.

3. Edisi RTC
Anak-anak RTC angkatan 2008 sering berwacana untuk jalan-jalan kesana kesini, sekedar ngumpul. Untunglah wacana berakhir dengan eksekusi, dengan target lokasi Taman Mini Indonesia Indah. Gw sebagai preman TMII datang seadanya tanpa persiapan ala turis memberi petunjuk jalan dan tertawa dalam hati saat melihat teman-teman yang excited. Tapi lumayan.. nostalgia saat masuk ke istana anak-anak. Teringat 16 tahun lalu sempat belajar tari jawa di situ (gagal total). Trip ini diakhiri di atas kapal Pinisi yang terletak di depan museum keprajuritan. Angin sepoi-sepoi dan matahari terbenam memancarkan gurat-gurat romantis. Oh yeah, pulangnya mereka numpang makan di rumah gw, menghancurkan segala kerja keras anak rumah tangga :p 


Di atas Kapal Pinisi

Langit sore itu




4. Edisi super impulsif
Malam sebelum Nyepi, gw bertanya pada nona reporter apakah ia juga libur. Tidak, jawabnya. Ya sudah, gw memutuskan untuk ikutan nyepi di hari nyepi (siapkan laptop, harddisk, dan bantal yang empuk). Lagipula gw sudah berprasangka buruk bahwa Jakarta akan tetap macet di hari libur. 

Jam setengah 12 siang si Anggi menelpon.
'Ke Pasar Baru yuk! Gw mau liputan. Ntar kita sekalian main ke Monas dan museum!'
Dalam hitungan detik gw mengiyakan. Matikan laptop, sambar handuk, dan melesat ke stasiun! Super duper impulsif. Tampaknya, tindakan spontan ini telah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Pasalnya, si Anggi ternyata lupa membawa dompet. Bila gw tidak datang, mungkin dia akan bercengkrama dengan geng pengamen demi mendapat ongkos pulang ke Bogor. 

Jalanan menuju stasiun kosong melompong. Selagi menunggu kereta, muncullah seseorang yang familier. Teman kampus yang interaksinya hanya sebatas melemparkan senyum dan menyapa setiap berjumpa. Ia pun duduk di sebelah gw dan untuk pertama kalinya kami pun mengobrol. Seperti teori Lebih-baik-diam-setelah-berkata-halo-ketimbang-basa-basi-bikin-sakit-hati, gw tidak terlalu banyak bertanya hal-hal pribadi seperti udah punya cewe? kapan nikah? udah lulus? udah kerja dimana? dsb. Soalnya gw memang tidak tahu pasti apakah dia lulus bareng gw, atau baru lulus, atau bahkan belum lulus. Seperti biasa, saat ditanya soal kesibukan, gw menjawab sedang menantikan dilamar. Eh ditanggepin serius aja loh. Jadi kapan rencananya nikah? Gw pun terpingkal-pingkal. Setelah hening sesaat (lebih baik diem daripada sok kepo) ia pun bercerita tentang pekerjaannya. Nah, kalo gitu berarti aman kalo kita mulai bertanya-tanya. Kami berdiskusi selama beberapa menit dan berpisah saat keretanya tiba.

Jadi begitu looh, dengan menganut paham perlakukan orang lain seperti kau ingin diperlakukan, tiap ketemu orang, gw memilih stop at Hello. Ada hal-hal yang gak perlu ditanyain kecuali kalo orangnya pengen ditanya :)

Anyway, kencan bersama Anggi terhenti karena mendadak dia disuruh balik ke kantor. Takdir mengarahkan kaki gw untuk menuju Taman Ismail Marzuki karena Della mengabarkan ada kartu pos lucu di sana. Penasaran juga ingin menonton film-film Indonesia yang ditayangkan di Bulan Film Nasional 2012. Apalagi Della bilang dia di sana untuk menonton Kebun Binatang (Postcard from the Zoo). Lucu juga ngeliat pameran poster-poster yang gambarnya terinspirasi dari film-film jaman dulu. Baiklah, ganti haluan, dari main bersama Anggi jadi main bersama Della! Sayangnya, sesampainya gw di sana cuma sempet nonton FISFIC (kumpulan film pendek fiksi horor yang ditayangin di INAFFF) aja. Hati ini bingung memutuskan bakal nonton Kebun Binatang atau gak... Donasi 100rebu lumayan juga buat kantong anak rumah tangga. Kuputuskan...HAJAR! Nanggung lah ya udah jauh-jauh ke TIM, ntar nyesel..






Sayang sekali berhubung filmnya ditayangin malem dan kondisi gw yang uda capek, nontonnya sempet gak fokus. Apalagi banyak shot-shot statis yang rada monoton, kadang gw terkantuk-kantuk di situ. Bahkan gw sampe nyubit diri sendiri biar tetep melek. Ah, pengen nonton lagi! Harus fokus dan konsentrasi sambil mikir untuk nangkep esensi filmnya. Ternyata gw masih belum terbiasa nonton film yang mikir walaupun udah dijejali film Jepang yang bergenre absurd. Apakah film ini bakal muncul di bioskop? Kata Della sih kayanya sulit ya kecuali adegan nuditynya disensor. Eh, kalo bioskop udah menerapkan sistem kaya di luar negeri sih kayanya bisa aja filmnya ditayangin full tanpa sensor. Yang dibatesin ya penontonnya, harus sesuai umur.


Rekor lagi pulang malem dari TIM, jam 10 malem masih di Semanggi. Sebenernya gw gak masalah pulang selarut apa pun, tapi berhubung rumahnya di kampung jam 9 malem aja angkot udah gak beroperasi. Fiuhh. 

3 comments:

Yuni W said...

oh hardolin tuh bahasa sunda hahaha
kebun binatang itu felem dari indonesia kah?

Nien said...

kebon binatang yoi pelemnya ladya cheryl dan nicholas saputra.

hardolin mungkin kegiatan himono onna versi sunda yaa

fidella anandhita savitri said...

ya idealnya sih emang yg disensor umurnya, bukan adegannya. tapi tau lah ya negara tercinta kita ini

 
design by suckmylolly.com