Thursday, December 29, 2011

Ladie's or Ladies

Being adult means you gotta decide many things on your own. With its pros and cons.

Also, to decide which one is right: Ladies or Ladie's? :))


Apakah Antrian Khusus Wanita ini berjalan dengan baik? Hmm. Kemarin sih saat berjejalan di shelter Transjakarta, banyak juga laki-laki yang masih terjebak di spot ini. Memang sulit untuk memisahkan hijab laki-laki dan perempuan karena bis ini terdiri dari satu tempat saja, tidak seperti kereta yang memiliki banyak gerbong. Para laki-laki yang tidak mendapat tempat di bagian belakang tentunya terpaksa (atau sengaja) mencari ruang untuk menjejakkan kaki di bis bagian depan (khusus wanita). Mungkin aturan ini bisa diterapkan di bis gandeng yang punya dua bagian terpisah. Sungguh mudah memisahkan bagian depan untuk perempuan, belakang untuk laki-laki, misalnya, bila memang ada dua tempat.

Tapi lumayan sih kemarin pas naik Transjakarta di jam pulang kerja, bagian depan hanya dipenuhi perempuan saja. Entah karena peraturannya sudah mulai ditegakkan atau memang jumlah perempuan di bis itu jauh lebih banyak :p

Sedih sih liat fasilitas Transjakarta yang tidak terawat. Sekarang tidak semua bis menyerukan 'Pemberhentian berikutnya, halte Lost Anjeles...Blablabla'. Kalaupun speakernya rusak terkadang petugas pintu menggantikannya. Eh apes rupanya bila speaker rusak, petugas pintu capek dan malas berteriak-teriak, sedangkan posisi kita tidak mencapai jarak pandang ke peta yang ukurannya imut-imut. Alhasil daku kemarin salah turun karena sotoy (dan gak nanya pula karena buru-buru). Niatnya turun di Cempaka Putih malah di Pramuka. Ya sudah lanjutkan ke Matraman yang PENUH luar biasa. Nah, kalau mau dapet berita sensasional ala koran Lampu Merah, tempat observasi paling tepat adalah di shelter Transjakarta yang padat, bis jarang datang, panas (siang bolong), atau malam hari. Kening berkerut, helaan nafas, keringat menetes, rasa kesal memuncak. Sedikit pemicu bisa menyebabkan perkelahian. Tak terhitung gw sudah menyaksikan beberapa perkelahian dan insiden (kaki kejepit pintu, kepala kejedot pintu, orang muntah karena terjepit antrian) di shelter Kp. Melayu. Nah, di shelter Matraman, saat lagi-lagi bis yang lewat sudah penuh dan hanya bisa mengangkut secuil dari gerombolan yang mengantri, ada ibu-ibu yang meledak marah di bagian belakang.

'Heh, minggir dong minggir! Saya mau masuk nih daritadi!!!!'

Orang yang disuruh minggir hanya menengok apatis. Seorang bapak-bapak menimpali,

'Penuh bu bisnya. Kita semua juga mau masuk. Saya juga mau masuk daritadi gak bisa, bukannya gak mau minggir.'

Ah, untunglah ini hanya adu mulut. Terakhir yang gw lihat itu saat petugas emosi karena seorang calon penumpang tidak sabar dan memukul-mukul kaca di shelter menuntut agar bis datang lebih cepat. Waktu itu pukul 9.30 malam. Pasti semua orang sedang penat. Hampir terjadi baku hantam bila mereka berdua tidak dipegangi orang sekitar. Gw sih mengambil nilai positifnya saja, tontonan hiburan selagi bosan dan lelah menunggu.Onion Head Emoticons 96


1 comment:

Tyka Ndutyke said...

butuh ketangguhan mental yang ekstra ya kalo mau jadi warga jakarta, even yang komuter. hal yg aku gak punya (atau punya tapi stoknya mepet cukup buat surabaya aja).

makanya aku dari SMA gak mau disuruh pindah ke jakarta :(


www.ndutyke.com

 
design by suckmylolly.com