Monday, December 5, 2011

Akhir Pekan Bersama Laruku

L'Anniversary 20th
credit: http://herrynurfajar.blogspot.com/2011/05/20th-lanniversary-brief-report.html
Demi mengejar status gaul di dunia perhimonoan, gw menemani ibu Maya, Riju, dan Tiwi untuk menonton Live Viewing Konser Laruku di Epicentrum.
Walau bukan fans berat Laruku, gw tetap menikmati lagu-lagu jadulnya mereka karena Laruku itu bagaikan jembatan yang mengantarkan gw ke dunia entertainment jepunan. Ibaratnya mereka adalah Iqra sebelum gw belajar Quran. Inget banget deh tahun 2005 lagu Ready Steady Go dan Hitomi no Jyuunin selalu diputar di Prambors pagi-pagi setiap gw berangkat sekolah. Pokoknya kalo denger dua lagu itu otak langsung dibawa ke kenangan saat seorang anak langsing (setidaknya perutnya datar tidak buncit) berseragam SMA dengan wajah polos duduk di jok mobil sambil membawa piring berisi sarapan pukul 6 pagi di tol menuju Pisangan.
Sayangnya tempat duduk kami terpisah, namun sama-sama di pojokan. Gw dan Maya di deretan agak depan, Tiwi-Riju rada di belakang. Salut untuk Studio 1 Epicentrum, walau duduk di pojokan, tetap bisa menikmati layar dengan enak tanpa jereng. Apalagi mata dimanjakan dengan kualitas video yang SUPER HD. SUPER HD! SANGAT TAJAM! Setajam apa? Sampai detil motif kutex di kuku Hyde pun terlihat dengan sangat jelas! OEMJIII. Ingin rasanya menonton konser Arashi dengan kualitas HD sampai bekas jerawat matsujun terlihat jelas. Atau gurat-gurat biru bekas jenggot dicukur milik Sho terpapar indah. Pengen punya kamera video HD kaya gituuuuu!

Ibu Maya menyesali model rambut Hyde yang seperti pirates (panjang keriting rasta kepang dkk) sementara menurut Ibu Tiwi, itu adalah tanda ia mengenang model rambut awal saat baru debut. Gw pun lebih suka Hyde dengan rambut pendek seperti lelaki normal, tapi kok kelamaan doi tetep cakep aja walo rambutnya keriting-keriting pirates. Yang sedikit ingin membuat tangan menutup mata adalah kostum Hyde yang memamerkan dada sampai perut. Aduh abang.. mana hujan, half topless, nanti masup angin.

Tetsu? Kostum bola, model rambut keren, bass pink, dan pisang. Kawaii!

Ken? Totally hot. Gw suka banget ekspresinya waktu main gitar. Ekspresi kepuasan dan gairah total penuh kenikmatan. Terlihat keren walau kostumnya simpel, hanya kemeja putih dan vest hitam. Kibas-kibas rambut gondrong sambil memetik senar gitar. Wild~

Yukihiro? Hem. Gak kebayang berapa kalori yang terbakar melihat dia sangat enerjetik memainkan drum.

Tentu saja ada cerita menarik kemanapun Himono bepergian. Saat muncul lagu-lagu mellow, light stick pun bermunculan, di layar dan di bioskop. Serentak orang-orang mengayunkan light stick sesuai irama, goyang kanan goyang kiri. Nahhh... orang di deretan gw tidak punya light stick, tapi dia tidak hilang akal. Ia memakai lampu senter handphone. Ayun sana ayun sini. Membuat silau mataku tiap dua detik sekali. Rasanya seperti sedang mengendap-endap sembunyi dari lampu patroli penjara. Silau, silau, silau. Konsentrasi himono agak terpecah.

Ah, biarlah. Di lagu berikutnya pasti dia akan menghentikan sorotan lampu senternya.

Nyatanya, sampai akhir ia terus mengayun-ayun lampu senter itu tiap dua detik melewati mata himono. Mata himono silau dan capek tak bisa konsentrasi menikmati penampilan Laruku di layar. Tak masalah bila itu light stick yang tidak menusuk kornea, lah ini senter yang daya sorotnya luar biasa bisa terlihat dari ujung ke ujung bioskop. Ibu Maya dan gw saat itu merasa sedang terombang-ambing di sebelah mercusuar. Sorotan lampunya menusuk mata tiap beberapa detik sekali. Menyesal sekali gw gak bawa senter, soalnya pengen nyoba senterin mata si mercusuar selama sejam nonstop biar dia ngerasain betapa  gak enaknya kesorot lampu senter terus-terusan saat lo ingin menikmati konser.

Andai dia duduk di sebelah gw, akan gw minta baik-baik untuk tidak mengayunkan senter ke arah gw. Tapi sejauh ini saat gw berkonfrontasi terang-terangan sama orang lain di bioskop, hampir selalu berujung ke perkelahian. Huaah.

Pesan moral: bila ingin meramaikan konser dan tidak bawa lightstick, JANGAN PAKAI SENTER HANDPHONE apalagi senter betulan. Mengganggu kenyamanan sekitar.

Anyway, dengan iming-iming fastnet dan sate, setelah sekian lama gw melintah lagi di rumah Riju bersama Tiwi. Lumayan... semalem dapet harta 4 giga (KAPAN FASTNET DATANG KE JAKARTA TIMUR 13890????????). Selain itu kami bertiga mengadakan diskusi cerdas seputar (apalagi kalau bukan) fandom, percintaan (topik baru), dan iluminati.  Ibu Tiwi yang besar di lingkungan pesantren (anak MIPA maksudnya) membagi ilmunya seputar iluminati dengan sistematis. Temanya menyebar ke genetik, peradaban manusia, yahudi, keturunan ibrahim, dajjal, 20th century boy, degradasi moral, dan karakteristik ras di muka bumi.

Terharu deh akhirnya obrolan kami cukup berbobot.

Dari analisis sotoy kami, bisa disimpulkan bahwa:
1. Gen melayu itu lemah. Buktinya bila digabungkan dengan gen bule, cina, arab, dsb maka kemungkinan besar hasil dominan adalah gen lain. Makanya orang Indonesia kalo kawin sama orang luar anaknya cakep-cakep. Karena, menurut Tiwi, bila kita menikah dengan orang 'jauh' (as in ras, keturunan) maka kemungkinan besar sang anak membawa gen-gen yang bagus dari kedua belah pihak. Gen resesifnya tidak keluar.

2. Gen arab itu kuat. Coba liat aja siapa yang kawin ama orang arab pasti mukanya arab banget.

3. Mungkin aja dajjal bentuknya bukan orang, tapi propaganda yang menjurus pada degradasi moral.

Banyak deh bahasannya.

Nah, di hari Minggu, gw ikut piknik bersama keluarga Tanjung. Sehari menjadi anak angkat bersama Tiwi. Terima kasih keluarga Tanjung~
Senangnya mendapatkan postcard book di PERIPLUS dengan gambar-gambar ciamik! Hurray hurray!

2 comments:

Maya Safira said...

itu penjaga mercusuar kyknya aktif komen deh di komunitas. mau gw ksh facebooknya? bahhahahaaa
ntar ceritain gw illuminatinya *pnasaran versi tiwi*

Yuni Winingsih said...

aduh mau juga liat titik biru bekas cukuran jenggotan sho. kalo bekas jerawat jun gak peduli hahaha, sama gurat2 keriput aiba aw aw aw

 
design by suckmylolly.com