Wednesday, January 11, 2012

Trip Jawa Barat

Skema perjalanan Trip Jawa Barat. Dari C-B-C-D-E
Minggu kemarin gw diculik tante dan om untuk nemenin survey ke beberapa pesantren, calon SMP sang sepupu. Berikut kisahnya:

Kamis pagi, 5 Januari 2012.
Kutitipkan Kelinci Padamu

Rombongan om-tante-tiga sepupu-satu helper-dua kelinci datang menjemput ke rumah. Namun, dua kelinci ini tidak akan ikut berpetualang ke pesantren. Mereka akan menginap di rumah gw (makanya emak bapak ga bisa ikutan pergi karena harus ngurus kelinci). Berhubung kelinci itu makannya banyak dan tanpa henti (kalo disodorin sekarung pun bisa abis), mungkin emak ingin ngirit pengeluaran, makanya gw didukung untuk pergi dan menjadi beban tanggungan om-tante. Tak ada anak, kelinci pun jadi. Baiklah.

Dari Jakarta menuju Subang!
Dasar kodok dalam tempurung, walaupun mengaku berdarah sunda, gw belum pernah menginjakkan kaki ke Subang. Makanya baru tahu kalo yang terkenal di Subang adalah nanas. Sepanjang jalan terlihat deretan kios-kios yang menjual buah nanas, dodol nanas, dsb. Udara dingin mulai menerpa. Sampailah kami di pesantren yang pertama. Suasana masih sangat asri. Pohon durian dan kebun nanas ada dimana-mana.
Satu pohon durian menjadi pusat perhatian karena berada di tengah-tengah lapangan sekolah. Di batangnya tertempel kertas: 'Jangan berdiri di bawah pohon durian!'.
pohon duren

Sejujurnya gw baru sekali liat durian yang masih di pohon. Mirip ya sama pohon nangka. Buahnya gede, berat, kalo jatoh ke kepala, Innalillahi.

Sejauh mata memandang.... jarang ada yang pake celana jeans. Akhwatnya (bahasa disesuaikan dengan setting) jarang yang memakai celana. Tiba-tiba gw merasa sangat berdosa karena tidak berpenampilan selayaknya muslimah idaman. Anak-anak kecil yang daftar sekolah aja kebanyakan pake rok atau gamis. Perasaannya mirip seperti kalau kita memakai gamis terus mampir ke diskotik buat beli bandrek.


 Si Imong (sepupu yang bertugas nyetir) merasa bosan dan menyetel mp3nya... yang lagunya sangat tidak pantas untuk distel di pesantren. Untunglah dia punya satu lagu waras, yaitu lagu Haddad Alwi. Memang, kita akan bersikap sesuai keadaan lingkungan. Bawaannya gak pengen baca komik, tapi baca qur'an (tes masuk sekolahnya hafalan surat dan baca qur'an). Bawaannya gak pengen dengerin musik, melainkan tilawah (disetel juga di TOA sekolah).

Kamis malam, Gaul di Lembang.

Karena terlalu sore, kami memutuskan untuk menginap di Subang. Berhubung si tante dulu ngekos deket Lembang, dia ngajak ngemil di Lembang malem-malem. Kami tempuh jarak 27 km Subang-Lembang hanya demi ketan bakar + susu murni + jagung bakar di pinggir jalan. Pengen banget kencan di Lembang, udara dingin, ketan enak, susu hangat, YUM! Andaikan Jakarta sejuk seperti Lembang....

Setelah kenyang, kembali ke Subang... melewati jalanan berkelok-kelok tanpa penerangan jalan. Namun siluet-siluet pohonnya mengingatkan gw pada film Petualangan Sherina. Tepat di scene Sherina sampai di Lembang. Ahhh... itu dia, impian gw sejak kecil adalah bersekolah di Lembang, main ke Boscha, main di hutan Lembang gara-gara film Petualangan Sherina. Somebody bring me to Lembang!!!!

Jumat pagi, Kembali ke Lembang.

pemandangan di luar sekolah
Letak pesantren kedua ada di Lembang. Bolak-balik gitu ya? Biarin deh. Nah, untuk sampai ke sekolah yang kedua ini, kita melewati jalan berliku-liku dengan pemandangan hutan pinus dan air terjun Maribaya (kalo ga salah namanya itu). Udara sejuk, pemandangan luar biasa. Kebun jagung, sawah, dan pegunungan mengelilingi sekolah itu. Fasilitasnya pun mewah, kantinnya seperti food court, kamar asramanya rapi dan tertata.... ternyata uang sekolahnya pun luar biasa mahal. Bisa nyekolahin lima orang di UI (jaman gw).

Jumat siang, Kembali ke Subang.

Sebelum lanjut ke Kuningan, kami memuaskan hasrat yang tak bisa ditahan-tahan: makan durian. Perjalanan setelahnya dihiasi dengan kentut/sendawa berbau durian. Di tengah jalan, kami tersadarkan oleh teknologi maju bernama GPS. Akibat terlalu pesimis sama kemampuan internet provider Indonesia, dari awal kita sama sekali gak mau coba. Eh ternyata bisa dan ampuh! Soalnya belum ada orang yang ke Kuningan lewat rute Subang. Dengan mengandalkan GPS, kami memilih rute yang paling pendek.

1. Jalan alternatif (bagus)
2. Jarang ada mobil. Hanya berpapasan sesekali dengan truk.
3. Sepanjang jalan hanya ada sawah, sawah, sawah, sawah, sawah, sawah, hutan, sawah, sawah, hutan.
4. Tidak ada lampu jalan (untungnya kami pergi di siang hari)
5. Tanpa GPS kami pasti berpikir positif 'INI NYASAR!'. Ya iyalah ketemu manusia di jalan aja jarang banget.
6. Rute yang horor bila dilewati di malam hari dan sendirian.
jalan alternatif menurut GPS
lewati sawah selama berjam-jam

Dag-dig-dug duerr berharap batre ipad tetap awet karena kalau ada apa-apa di jalan, misalnya mogok, siapa yang mau nolongin di tengah sawah?

Jeng..jeng..jeng..jeng... ternyata GPS bisa diterapkan di Indonesia! Kirain cuma berlaku di luar negeri doang. Dengan penuh perjuangan kami pun sampai di Kuningan untuk melihat pesantren ketiga.

Jumat sore, Timing.

Suasana sekolah ketiga ini persis sekali dengan bayangan gw tentang pesantren. Mungkin karena ada murid-murid (di sekolah sebelumnya, gak ada kegiatan akademis). Tak berapa lama Magrib pun tiba. Gw dan kedua sepupu (11 tahun dan 4 tahun) mencari masjid perempuan. Longok sana longok sini. Masjid kosong dan gelap. Bulu kuduk meremang. Kembali berjalan melewati kamar-kamar asrama, siapa tahu perempuan juga sholatnya di masjid campuran. Sampai di ujung koridor, sudah berharap ada jalan utama ke masjid laki-laki...ternyata.... kebun liar. Suasana remang-remang dan kamar yang tak terurus (gak ada penghuninya) membuat bulu kuduk meninggi. Apalagi sang sepupu langsung menggamit tangan karena ketakutan. Kami pun bergegas kembali ke mobil. Biarlah dijamak di Tasik saja.

Dipikir-pikir, pergantian siang ke malam itu memang agak creepy. Apalagi kalau lagi di luar rumah, sepi, hujan, sendirian, hiiiii....

Jumat malam, ke Tasik.

Hanya orang berpengalaman yang bisa melewati jalanan Kuningan-Tasik di malam hari. Tipikal jalanan jawa barat deh, berliku-liku, dihiasi pinggiran jurang, tak ada lampu jalanan, dan sempit. Sepupu gw memang master dalam hal menyetir. Biar dia gak ngantuk, para orang dewasa mengajaknya ngobrol. Eh, malah ngobrolin yang serem-serem. Gw yang duduk di depan hanya bisa fokus melihat jalanan yang tersorot lampu dengan harapan 'ada yang muncul gak ya...ada yang muncul gak ya...'. Settingnya kaya di film Jelangkung!


2 comments:

w yuni said...

enaknya liburan. pengen deh nyobain ketannya nien

Nien said...

yuk ngegaul di lembang. katanya kalo wiken rame banget! kemaren sepi abissss

 
design by suckmylolly.com