None Nanien for Abang None Jakarta Timur 1989
Sangat berkesan karena di hari yang sama, gw diludahin pengamen.
Sudah sangat sering gw mengalami hal buruk bersama pengamen: dikatain sok suci (karena pake jilbab), norak baru punya hape (karena baca sms), dll.
Yang ini manstab.
Hati-hati bagi kalian yang suka mendengarkan MP3/ipod atau barang semacamnya ketika ada pengamen di bis. Beberapa yang tidak punya otak ternyata tersinggung kalau kita mendengarkan musik lain saat mereka menyanyi (padahal suara mereka juga gak bagus-bagus banget).
Ya, kabel earphone memang menjuntai di luar kerudung yang gw kenakan hari ini. Memang tak ada niat memberi uang, soalnya gw sama sekali ga ngedengerin dan ga kedengeran. Apalagi gaya mereka yang emang maksa dan nyolot pada setiap penumpang yang ga ngasih. Ketika sampai di sebelah gw, si pengamen dengan manisnya mencondongkan kepala ke kuping gw dan berkata,
"sok alim lo."
kira-kira seperti itu karena gw lagi ngedengerin musik juga.
Bagaikan lilin murahan, emosi gw tersulut men. Gw pun mengatur skenario di kepala, apa yang harus gw katakan sebagai ungkapan ketidaksukaan atas penghinaan dia tanpa membahayakan nyawa sendiri.
Rencana awal:
Kami sama-sama turun di tempat yang sama. Saat siap-siap menyeberang jalan, gw akan tereak
"YEEE PENGAMEN MALAH MAKSA MINTA DUIT YEEE"
dan kabur. Tapi itu beresiko karena bisa aja dia ngejar gw sampe angkot. Terus bisa aja gw digebukin. Atau hal yang lebih parah.
Lamunan buyar. Bis berhenti. Gw turun, melewati dia yang sedang duduk. Dengan wajah datar, mata ini memandangnya dengan tatapan sinis. Belakangan setelah gw berkaca, dengan mata seperti ini, refleksi ekspresi sangat sangat sangat penuh kenyolotan dan emang menantang (maut).
Setelah turun dari bis, gw setengah berteriak.
"yeee, ga dikasih malah marah"
Sepertinya keadaan aman.
Gw berjalan kaki lagi. Dan bis berjalan kembali melewati gw. Si pengamen masih ada di bis bagian belakang. Masih emosi, gw berteriak lagi.
"YEEEE GA DIKASIH MALAH MARAH!!"
You know what?
Dia mencondongkan badan keluar,
gw pikir dia mau loncat dan mau mukulin atau nusuk atau ngebunuh gw.
ternyata,
"CUIIIIIIIIIIIIIIIIIIIHHHHH"
he spat on me. Thanks God posisi dia agak jauh sehingga tidak terlalu tepat sasaran.
gw belom mandi 7 rupa nih men.
jangan tanya perasaan gw seperti apa. i cant even make a proper face expression.
Tapi gw jadi agak marah sama diri sendiri.
Karma.
Iya, mungkin karma. Gw selalu menganggap tingkah pengamen yang luar biasa manis kepada gw adalah hukum karma. Tidak bisa marah sepenuh hati karena gw juga bukan manusia suci yang baik sama semua orang.
Jadi, mohon maaf untuk semua orang yang sering gw zalimi. Mudah-mudahan insiden ini selalu mengingatkan gw untuk terus jadi orang baik. Dan selalu memakai earphone dibalik jilbab agar tidak menyinggung perasaan pengamen yang ga punya tata krama. Dan belajar akting tidur saat ada pengamen yang ga punya tata krama. Atau harus berdandan serem dan aneh biar mereka takut? (misalnya pake masker sambil mata jelalatan aneh).
Andai melukai orang bukan dosa, udah gw tusuk tu orang pake peniti sama jarum pentul (ga punya senjata lain). Atau gw lemparin 100rebu atau 50rebu ke dia sambil bilang, "Nih, biar lo ga ngamen lagi dan ngata2in orang.", masalahnya gw ga punya uang sebanyak itu untuk dihambur-hamburkan demi makhluk setengah manusia setengah benalu itu.
Aduh trauma naik bis P80.
Thanks for the candle+ bungkus Kartika Sari + SilverQueen Chunky Almond.
I WANT SAKURAI SHO COME TO BAMBU APUS TO ME.
Or another 'sakurai sho' yang pendiam, misterius, dan menggemaskan.
Oh, unrequited love makes me doki doki kyuuuun~
HORE SUDAH DUA PULUH SATU TAHUN, BOLEH NONTON PIDIO ARIEL SECARA LEGAL DONG? HAHAHAHAHAH.
Got 10 discount 30% tickets for Snowbay, anyone? :)
So far, me-rizu-lescha-dachi. Girls only. Friends only. Jadi sekitar 80-90ribuan kali ye. Makan mah di rumah gw aja secara tinggal ngesooot. Tapi masuk TMII juga 9rebu per orang :(