Friday, September 30, 2011

Nguping Jekardah


I am pretty sure that is mine :D
Ini adalah kisah tentang kelas Jurnalisme bersama dosen, gw lupa namanya, tapi penampilan dia mengingatkan kami pada Om jin di Jin dan Jun. Jadi.. kami menyebut dia Om Jin (gak di depan dia tentunya).

Thursday, September 29, 2011

Toleransi Agama

Gw: Assalamu'alaikum..
Dachi: Ya, dengan domba yesus disini
ROFL.

*found this in draft. Ain't remember whether this happened or just our -Dachi n I- imagination back then.

Wednesday, September 28, 2011

Selamat di Kp Rambutan

Masih inget demonstrasi rok mini beberapa waktu lalu?
Yaaah, kalo make rok mini di terminal sih sama aja nyari penggemar yang matanya jadi kaya penari bali. Melotot tak berkedip, fokus pada rok dan kawan-kawannya. Jangankan rok mini. Body (gempal berisi dan sehat penuh nutrisi) macem gw aja selalu sering digodain abang-abang terminal. Or maybe they just don't have options ya?  Ya iya kali kalo dandan pol-polan cakep ke terminal sih cari mati. Gw sering memperhatikan orang yang sedang memperhatikan orang. Bingung? Jadi gw adalah orang ketiga gitu loh yang merhatiin pandangan para lelaki terhadap semua perempuan yang lewat di depannya. Biasanya sih kepala para laki itu bisa muter 180 derajat -kaya nonton pertandingan tenis- kalo cewe yang lewat:

1. Cantik
2. Langsing
3. Bahenol
4. Menor
5. Baju ketat
6. Pake cadar

Gw sering memanfaatkan kerudung yang menjuntai untuk diselipkan jadi cadar demi menahan polusi udara.

Walo sering digodain, tetep seneng juga kalo ada yang mengenali gw 'bukan ibu-ibu'. Panggilan penuh doa semacem 'Neng Haji mau kemana?' bisa membuat gw senang (HOREE TERLIHAT MACEM ANAK MUDA).

Nah, gw justru sangat merasa tersentuh saat menginjakkan kaki di terminal pada malam hari. Magrib tepatnya. Baru saja turun dari bis Bogor. Kok tumben, gak ada yang goda-godain. Padahal lingkungan sekitar hampir dipenuhi abang-abang.

Owalah kayanya gw disangka orang edun karena selama 17 menit (nunggu jemputan) gw poto-potoin langit (pasca magrib itu blue hour = langit biru banget sebelom gelap total) sambil nyanyi-nyanyi lagu Mocca. Terus mungkin keliatan gak planga plongo gitu kali ya karena udah menguasai medan perang dan yakin bisa pulang dengan selamat. Atau tampak seperti kurang waras?

GAP

Gap di postingan ini bukan merek baju, tapi gap dalam arti bahasa. Celah. Jurang. Perbedaan.

Gap umur = beda umur.

Gw sering mendengar kata ini saat orang sedang curhat. Misalnya, kenapa dia gak nyambung sama si Anu, si Ani, si Ano.. soalnya gap antara mereka terlalu besar. Yang satu suka ngaji, yang lain demen dugem. Kaya gitu kali ya.

Tapi ada gap yang membuat gw gemas dan pengen menjerit ala abg 'kyaaaaaaaa' setelah mengunjungi stalking ke blog akang bule yang ini.

  • Tatoan. Penuh. Alih-alih kaya preman...
  • Tatonya lucu-lucu!
  • Chef!
  • Smiling guy!
  • Model!
Gap-nya jauh banget kan... dia tato-an.. tapi baik, tapi jago masak, tapi pinter berpose, tapi fotogenik, tapi senyumnya manis..

Semacam itu lah.

Kepribadian orang-orang juga pasti punya sisi berlawanannya yang ekstrim ya. Sepupu gw yang bocah, luar biasa gak bisa diem (orang-orang bilang nakal), jahil, tengil, bakat ngebully, tapi gampang tersentuh dan nangis kalo liat adegan sedih. Gw cuma bisa termangap-mangap liat anak itu sesenggukan nonton Laskar Pelangi.


Itulah manusia. Abu-abu. Punya sifat baik sekaligus yang buruk. Tinggal bagaimana kita mengaturnya untuk mengoptimalisasi yang baik dan mengurangi yang buruk. Tulisan ini kok mirip kaya ceramah Ustad yah. Ehm.

Ciptaan Tuhan memang luar biasa.

Tuesday, September 27, 2011

Tarif Surat dan Kartupos Udara Luar Negeri

Mengurungkan niat untuk naro surat di kantor pos pusat. Dipikir-pikir gw rajin banget, beda wilayah gitu. Rumah di pinggiran Jakarta, kantor pos di Jakarta Pusat. Hmm. Yaudah, merelakan hanya menaruh di kantor pos cabang Pinang Ranti. Pluk. Gw taro tuh beberapa amplop dan kartu pos.

Menurut petugas di kantor pos Pinang Ranti, kirim surat ke luar negeri kalau pake perangko harganya sama. Kira-kira 10.000. Nah lho. Waktu di Depok sama Jatinegara kan ditimbang ya. Tapi kata bapak Pinang Ranti, kalo ditimbang itu yang kilat. Tuh kan gw jadi bingung. Gimana sih sebenernya harga aslinya wahai kantor pos?


Makanya, gw meniatkan diri untuk meminta daftar tarif di mas petugas warpostel FISIP UI. Gw penasaran sama catatan sakti dia, pengen tau aja berapa tarif ke negara A untuk amplop beratnya B. Di luar dugaan, si mas-mas dengan baik hati meminjamkan kertas lusuh itu. Mungkin rayap juga ga mau makan saking udah mengenaskan.

Tarif ini dikeluarkan oleh Direksi PT POS INDONESIA (PERSERO) tahun 2002. Kata mas-masnya sih  masih berlaku sampe sekarang. Ini bisa jadi bukti kalo lo dizhalimi oleh petugas kantor pos yang bilang lo sok tahu soal tarif kartu pos seperti yang dirasakan saudari Aghnia. Sodorin ke depan mukanya, bilang ini perintah direksi.

Silakan klik gambar untuk perbesar. Reproduksi dari daftar tarif surat, warkat pos (gw gak tau apa ini), dan surat ke luar negeri. Ada kemungkinan typo karena waktu ngetiknya udah malem dan tulisan di kertas sumber udah gak jelas.

Daftar Kelompok Negara Tujuan: Afrika, Amerika, Eropa.


Daftar Kelompok Negara Tujuan Asia Pasifik

Tarif Surat dan Kartu pos Udara Luar Negeri
Gw juga main ke Kantor Pos Pusat untuk minta daftar tarifnya. Cuma lebih mahal 500 perak aja sih dan sejauh ini gw pake versi depok juga tetep nyampe. Tapi kalo penasaran sama tarif perangko versi kantor pos pusat silakan intip di sini.

Mudah-mudahan berguna untuk para postcrosser dan pecinta snailmail :)

 
design by suckmylolly.com