Wednesday, February 9, 2011

KTP

Kabar baik! Sekarang bikin KTP gak bisa nembak lagi. Setiap orang harus ngurus sendiri ke kelurahan setempat. Katanya sih.. apa ya, kemarin emak bilang nasionalisasi. Gak tau deh bener apa gak.

Singkat cerita, gw nganterin emak memperpanjang KTP ke kelurahan plus ngebenerin tahun yang tertera di KTP (you know lah di Indonesia mudah sekali merekayasa) karena emak gw sudah menderita diterpa kesulitan administrasi yang disebabkan oleh perbedaan tahun lahir pada akta kelahiran dan ijazah. Waktu mau masuk sekolah, emak gw dipalsukan lebih tua dua tahun biar bisa masuk. Begitulah, namanya juga orang jaman dulu ye, apalagi emak aye adiknya banyak, jadi harus cepat sekolah dan kerja untuk membantu beban orang tua.

Akibatnya terjadi di masa depan. Susah kalo mau bikin macem-macem yang butuh berbagai kelengkapan surat kalo tahunnya ga konsisten.

Kembali ke kelurahan. Namanya juga kelurahan, kecil ya tempatnya. Not to mention kita ada di pinggiran Jakarta, itu kelurahan deket banget sama rumah temen gw si Minanti. Anyhoo.. Emak dilayani dengan ibu-ibu berwajah datar (kalo gak mau gw bilang jutek).

Emak menyayangkan, kenapa tidak ada prinsip 'TEGURLAH PETUGAS KAMI BILA TIDAK TERSENYUM DAN RAMAH'. Katanya kalau di Rumah Sakit (doi mantan perawat) tuh harus senyum selalu. Padahal disini petugas pemerintah ya? Om Foke, naekin deh gaji para petugas kelurahan biar mereka bisa tersenyum kepada masyarakat.

Ada bagan tentang cara bikin KTP dan berbagai surat lainnya. Disitu tertera bikin KTP perlu 14 hari dengan biaya 0 Rupiah. Hore!

Tapi...
Nyokap harus bayar 10 rebu sebagai denda telat memperpanjang. Siap lah.
Yang bikin gw kaget adalah, petugasnya, cewe, bilang gini..

'Bu, kan ini mau diganti datanya. Saya harus ke sudin. Nah, terserah ibu deh mau kasih ongkos berapa buat ke sudin...'

WOOT? Gw gak mempermasalahkan jumlah uang yang dikeluarkan, tapi..
Ini masalah integritas woooy. Emangnya kalo ongkos jalan gak dikasih dari kantor? Pasti dikasih kan? Gw pun membombardir nyokap dengan pertanyaan émangnya kalo ga dikasih uang KTPnya gak jadi?'. Nyokap yang males repot pun mengunci mulut gw. Udah lah, biarin aja, katanya. Yeeeey emak gw malah ikut-ikutan terjerumus budaya busuk orang Indonesia.

Tapi kan... mendingan bikin KTP nembak deh ga usah repot-repot ke kelurahan daripada udah repot ke kelurahan tetep ngeluarin duit lagi. Zzzzzzz...

Sunday, February 6, 2011

Pegang atau Cium?

Saya sudah 21 tahun, tetapi saya anak bungsu.
Saya terbiasa bertingkah laku seperti anak bawang, dianggap anak kecil yang tidak terlalu penting, dicuekin saat acara keluarga (anak kecil biasanya main sendiri), bersikap pasif di depan saudara-saudara tua yang jauh dan tidak akrab, berlindung di ketek mama (oke, berlebihan).

Saya bingung nih. Umur 21 sih katanya masih golongan remaja tua atau beranjak dewasa muda. Bagaimana saat berhadapan dengan situasi ketika kita harus menyalami orang yang lebih tua? Tidak selalu yang sudah 40 tahun ke atas, bisa saja yang 8 tahun lebih tua. Apakah sudah boleh hanya menyodorkan tangan saja, atau harus cium tangan?

Dilema. Saat berkenalan dengan teman-teman kakak saya yang usianya terpaut belasan tahun lebih tua, saya bingung harus memposisikan diri sebagai orang dewasa (muda) atau sebagai adik bungsu? Kalau sebagai adik bungsu, rasanya lebih tepat cium tangan. Tapi, rasanya udah saatnya saya beranjak dari gaya salaman anak SMA jadi gaya salaman anak kuliahan yang udah berlagak dewasa. Bingung kan?

Terkadang saya mengandalkan orang yang akan saya salami, bila dia mengarahkan tangannya ke atas, yowes saya cium. Tapi kalau dia menyodorkan lurus, ya sudah kita salaman biasa aja ya. Kadang tambah cium pipi kanan pipi kiri (kalo saya sudah mandi). Ah, tapi biasanya para ibu-ibu muda/ mahasiswa lain jika bertegur sapa saling cium pipi! Hmm... Sejujurnya saat ini saya menganggap cium pipi itu adalah basa-basi yang berlebihan. Mungkin karena tidak terbiasa. Di keluarga saya, ungkapan cupika cupiki jarang dilakukan. Ketika bertemu dengan orangtua setelah berpisah beberapa bulan pun, hal pertama yang saya lakukan adalah cium tangan dengan kilat dan bergegas ingin membongkar oleh-oleh. Berdarah dingin? Mungkin saya aslinya pemalu ya *blush*

Yang pasti, orang yang wajib saya cium tangannya adalah orangtua dari teman-teman saya. Sepertinya dulu saya jarang melihat teman-teman kuliah bercium tangan dengan orangtua saya, ah, tapi di depan orang tua teman, saya merasa kembali jadi anak SD.

Cium Pipi Kanan Cium Pipi Kiri

Waktu kecil, saya menganggap orang yang bertemu dan bercupika cupiki itu orang dewasa. Perasaan haru biru menerpa ketika teman kuliah teteh (saat itu saya 7-8 tahun) datang ke rumah dan mencium pipi kiri-kanan saya saat menyapa. Saya merasa 'saya dewasa!' saat itu).

Saat kemarin wisuda, ketika orang lain mengucapkan selamat sambil peluk dan cium pipi, terkadang saya hanya nyengir kuda dan bersalaman saja. Padahal orang yang disalami sudah siap menyodorkan pipi dan ingin dipeluk. Terkadang saya canggung bercupika cupiki dengan teman yang tidak terlalu akrab. Dengan yang akrab pun kadang 'malas', contohnya Riju. Seingat saya, selama enam tahun ini saya tidak pernah atau jarang sekali bercupika cupiki. Kawan saya sejak SMP, Bebek, juga bersikap biasa saja saat kita berjumpa setelah tiga tahun tak bertemu. Dia mungkin bisa menilai tingkat kerinduan dan excited saya dengan cukup mendengar intonasi saat saya memanggil namanya. Ada juga seorang teman yang kesampaian mimpinya untuk berkencan dengan idolanya, Wheesung, di Korea Selatan. Saat mengantarnya di bandara, saya tidak ingat apakah saya bercupika cupiki dengannya (kayaknya gak yah May?). Sepertinya, semakin dekat saya dengan orang itu, semakin sedikit kemungkinan saya bercupika cupiki (kalo sedang congratulate dia). Saat teman-teman sedang antri cupika cupiki, mungkin saya hanya akan teriak 'Selamat yaaaa' sambil berjoget-joget tanda turut senang.

Mungkin basa-basi sudah gak perlu buat saya. Yang penting orang yang saya salami atau selamati tahu perasaan saya, lihat saja dari mata yang berbinar dan senyum yang lebar.

Bagaimanapun juga, sudah umur segini tidak mungkin tidak bercupika cupiki. Saya akan tetap bercium-ciuman pipi (atau sekedar menempelkan lemak pipi) bila bertemu kawan-kawan lama yang memang biasa bercupika cupiki tanda melepas rindu. Cupika cupiki juga bisa dilakukan dalam konteks 'bukan basa-basi', misalnya sudah tidak berjumpa beberapa tahun.

Buat saya sendiri, bila lama tidak berjumpa, daripada cium pipi basa-basi, lebih baik mendengar kata ''woy!'' yang tulus.

Ah, atau mungkin saya berdarah dingin ya? :)

Oh, tapi jika (Ya Allah kabulkanlah) saya bisa bertemu dengan Arashi, khususnya Sakurai Sho, sudah pasti saya mengharapkan kontak lebih dari sekedar cupika cupiki misalnya mengelem diri sendiri pake power glue ke badan Sho biar ga usah berpisah.

Wisuda Februari 2011



Di semester ganjil ini sebagian kecil teman-temanku lulus kuliah, termasuk ibu JU dari pemilik (asli) blog NienJU walo dia udah pindah bikin blog sendiri dan blog nienju seakan jadi milik gw sendiri

Happy Graduation


Varyzcha Hafiza Tanjung, SKG
Riska/Rizuka/Riju

Semangat klinik ya, semoga dapat banyak pasien dan bisa jadi dokter gigi yang kredibel.
Semoga saya menyusul di bulan Agustus ini bersama lulusan para FK (siapa tahu ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama, antara aku dan calon dokter)

Tak lupa selamat juga untuk para Jurnalsista yang menyelesaikan studinya dalam 3,5 tahun (salut untuk kalian yang bisa mengerjakan Skripsi/TKA di tengah-tengah sisa mata kuliah yang menguras otak dan tenaga).

Dwi Syilfiriyani
Gadisza Zelamart
Hanna Veronica
Kalista Cendani
Mellysa Kusuma Devi
Paramitha Jati Buana
Rikha Khulafaurus
Syarifah Nur Aida

18 orang lainnya akan menyusul kerja keras kalian.

Selamat juga kepada para pemelajar komunikasi angkatan 2007, selamat menempuh hidup baru di dunia yang sebenarnya!
Gak semuanya ketemu dan bisa berfoto bareng, tapi lumayan lah buat perwakilan :)
Go orange!

Friday, February 4, 2011

Kokuhaku (Confession)

Inti ceritanya adalah guru yang membalas dendam pada muridnya yang telah membunuh anak perempuannya dengan cara yang tidak biasa.

Cerita Kokuhaku terbagi menjadi beberapa 'bab' pengakuan dari masing-masing karakter penting. Dari pengakuan itu, kita bisa melihat kejadian-kejadian dari sudut pandang yang berbeda dan akhirnya kita bisa menyimpulkan seperti apa kenyataan yang sebenarnya. Kalo lo suka nonton film yang punya twist banyak, Kokuhaku sangat pantas ditonton.

Film ini dibuka dengan monolog Moriguchi Sensei (Matsu Takako) di kelas. Sampe beberapa belas menit setting masih di satu tempat. Tetapi gw sama sekali gak bosen, malahan semakin penasaran dan deg-degan.

Ketika gw rekomendasikan film ini sama beberapa orang, Yuni, komentar kalo ini film psiko banget. Ya, isinya beneran gloomy dan penuh hal-hal gila. Tapi gw sama sekali gak bosen walaupun warna filmnya sendu (nuansa kelabu) dan ceritanya penuh depresi. Soundtrack sangat membantu, tiap scene diiringi backsound yang sangat membantu kita terhanyut dalam cerita. Ada unsur humor kelam yang membuat gw ketawa sambil merasa miris. Pengambilan gambar yang artistik, slow motion tetesan air, gambar langit yang indah, analogi-analogi membuat film ini tidak sekedar 'sadis'. Walau beda genre sama Battle Royale yang penuh bunuh-bunuhan, Kokuhaku juga punya adegan-adegan penuh darah. Di Kokuhaku, muncratan darah aja terlihat indah dan artistik.

Buat gw, klimaks film ini ada dimana-mana, sampai di saat-saat terakhir. Ayo nonton sendiri di tengah malam biar semakin terbawa suasana :)

Thursday, February 3, 2011

Kelakuan Endonesa

Sampai juga di postingan terakhir sesi mengasuh keponakan nun jauh disana.

Perjalanan Muscat-Abu Dhabi-Jakarta diisi oleh kejadian menarik:

Bandara Muscat

1. Gontok-gontokan sama Petugas Imigrasi

Percayalah, berhadapan dengan orang Arab dengan urat tegang itu sangat mencekam. Tapi, lebih mencekam lagi kalo berhadapan dengan petugas imigrasi Indonesia yang melecehkan kita cuma dari penampilan. Ya iyalah, dinyolotin sama orang sebangsa kesel juga ye. Kalo sama petugas Arab, at least kita bisa marah-marah sambil ngeliat tampangnya yang lumayan bisa jadi pemain sinetron Indonesia.

Ceritanya begini, kami mendapat teman perjalanan baru ke Jakarta, yaitu bapak temannya kakak ipar. Sang bapak itu kira-kira udah seumuran kakek gw lah. Gw didaulat jadi penerjemah kalo nanti ditanya-tanyain di imigrasi karena si bapak ini paspornya ilang di Muscat. Tetapi beliau udah punya paspor baru dengan berbagai kelengkapan dokumen plus cap visa deh. Jadi fungsi gw ya beneran cuma penerjemah aja kalo ntar ditanyain petugas. Sip. Bismillah semoga gak ada masalah.

EH~ ketika si bapak sampai di meja imigrasi, petugas tidak kunjung meloloskan beliau. Gw langsung maju dan menjelaskan ini itu kalo paspornya baru tapi dokumen udah lengkap syalala. Tapi si petugas nunjuk cap (yang kata bapak itu cap visa) dan menggeleng dan menyuruh kami ke Head Office. Gw mulai panik karena gak ngerti apa yang salah dengan visa si bapak. Mampuslah... gw kan gak ngerti masalah imigrasi.

Dengan berpedoman negative thinking (pasti kita dipersulit nih mentang-mentang Indonesia. Pasti dia lebay aja nih harusnya bisa masuk ) gw ngotot bilang kalo si bapak udah gak bermasalah visanya. Dasar petugasnya gak fasih bahasa Inggris, kita miskomunikasi lah.

"New Visa! New Visa!"
''He lost his passport!''
''Yes i know he lost his passport,'' katanya sambil nunjuk cap (yang gw anggap visa) "but you have to make new visa. He cannot go today."

Misteri terbesar gw adalah bapak udah punya visa, tapi kenapa harus bikin visa baru?
itu aja pertanyaan gw. Kalang kabutlah gw, mana ngantuk, mata merah (saat itu hampir tengah malam), bingung, panik, gak ada yang bantu, gak ngerti masalahnya, dll.

Si bapak gemetaran sambil mencoba menelepon anaknya. Ini dia yang saya takutkan, bermasalah soal paspor! katanya, dengan tangan gemetar. Gak tega dong gw. Si petugas juga udah keliatan kesel banget sama gw karena.. ya maklum namanya juga panik.. pas dia ngomong gw motong omongannya terus. Soalnya gw takut jadi kebawa-bawa gak bisa lolos imigrasi juga. Sampe nyokap gw bilang, sst dengerin dulu dia. Bahiklah. Ketika gw minta penjelasan lebih lanjut, dia juga udah ga bisa jelasin pake bahasa Inggris (whether gw gak ngerti logat Arab atau dia yang gak fasih) sampe mukanya frustasi dan nanya apakah gw bisa bahasa Arab.

Gw langsung sms ipar bilang kita bermasalah di imigrasi. Si teteh langsung nelpon dan panik, dia kira gw yang bermasalah. Setelah gw jelasin, dia bilang mau langsung hubungin temennya itu. Yaudah. Tugas gw sebagai penerjemah udah cukup nih, soalnya gw juga gak ngerti kan akar masalahnya apaan karena ada visa tapi ga bisa masuk. Gw juga denger sih si petugas bilang itu bukan visa, tapinya kata-kata anak si Bapak, Visa udah ada kok, udah dicap juga, terngiang terus dan gw masih percaya kalo si petugas ini memang cuma mau nyusahin aja.

Sebagai gambaran kemampuan bahasa Inggris petugas imigrasi itu, gw sertakan dialog nyata:

"His son wanna talk to you." Gw nyodorin hape si bapak, biar anaknya yang lebih ngerti asal-usul visa langsung ngomong. Duh i feel so useless.

"Who? Hassan?"
"HIS SON!''
''Hissan?"

cape deh.
Si petugas juga udah capek dan kesel, dia ampe nutup telepon sambil bilang, i have no time!
Hieee..om serem amat sih. Terus dia manggil petugas lain dan ngomongin gw tepat di depan muka gw. Idih ngegunjing pake bahasa Arab. Hehe. Gw pun duduk sambil ngeliatin dia terus *gak peduli sama perempuan harus menjaga pandangan.*

Karena masalah tak kunjung selesai, petugas Etihad langsung dipanggil. Puji Syukur, bahasa Inggrisnya bagus!
Dan ternyata masalahnya adalah...

Cap yang gw sangka visa adalah cap keterangan paspor lama hilang! Astaga! Meneketehe ya, itu tuh isinya tulisan Arab semua. Apalagi sebelumnya itu dibilang sebagai visa. Nah, karena paspornya baru, maka harus bikin visa baru juga. Sedangkan si bapak cuma bawa kopian visa lama. That's all mamen... Kenapa sih si petugas gak bilang dari awal kalo cap itu adalah cap keterangan, bukan visa. All i heard was THIS IS NOT VISA, THIS IS NOT VISA which i didn't believe at all :p

Setelah gw mengangguk, si bapak pun diantarkan kembali ke anaknya yang sudah menunggu di luar imigrasi. Gw pun mengucapkan syukran pada si petugas yang kesel sama gw. Petugas etihad sih senyum, tapi si petugas Arab masih masang muka masam. Bodo amat deh om yang penting masalah kelar.

Berantem sama orang Arab menghabiskan waktu 30 menit. Olala.
Begitu masuk ke gate menuju Abu Dhabi (yang penuh sesak dengan muka Indonesia), gw ngintip muka petugas yang meriksa paspor dan boarding pass. Kok mukenye kaya orang Indo ye? Ah, Filipina kali ya. Tau-tau...

"Abis liburan ya? Bandungnya dimana?''

Bapak gw basa-basi sebentar, sementara gw nyari tempat duduk kosong. Segerombol mbak tenaga kerja wanita yang ribut mengobrol menyangka gw adalah teman sejawat dan memberi isyarat tempat duduk. Kebetulan ada tempat duduk kosong di sebelah orang Jepang, yaudah gw duduk di situ aja. Mbehehe. Dasar workaholic, tengah malam pun dia masih ngerjain pekerjaannya di laptop (gw ngintip). Kata emak, petugas Etihad di gate ini orang Indonesia karena banyak penumpang yang mau ke Indonesia. Uwow, padahal waktu dari AD-Muscat, penumpang cuma 17 orang! Haha.


Bandara Abu Dhabi

Bandaranya keren banget! Interior yang asoy, Duty Free Shop yang mahal-mahal, internet gratisan (monitor komputernya segede PC Apple yang buat design), orang-orang Eropa tumplek plek. Sebelum ke gate penerbangan Indonesia, kami melewati gate penerbangan ke Paris. Isinya orang-orang bule baca buku/dengerin musik. Hening. Di gate sebelahnya..yang menuju Jakarta..sebising terminal bis. Gw gak hiperbol, beneran bising. Orang-orang pada lesehan walaupun masih banyak kursi kosong. Semua ribut mengobrol/ngomongin majikan. Gak cuma lesehan aja sih, tapi pada menghalangi jalan juga. Weleh-weleh pantesan aja suka banyak yang kesel sama anuan. Gak ngerti aturan sih. Gimana nih Pemerintah atau agensi TKW, kok gak diajarin sih? Kalo kaya gini ya gimana mau bagus imejnya?

Sama seperti kejadian di Muscat, saking bisingnya pengumuman boarding sama sekali gak kedengeran. Rrruar biasa. Terus tahu darimana dong kalo pesawat udah mau berangkat? Pernah liat orang-orang yang berjejalan ketika mengantri lama di shelter busway/kereta ekonomi? Nah, begitu mereka denger pengumuman mereka langsung menghambur ke antrian (makanya lesehannya deket petugas) seperti itu persis ditambah dengan suara ribut-ribut ''waaaaa....'' dan dorong-dorongan serta desak-desakan seakan takut gak dapet tempat duduk. Ckckck.

Ternyata, tempat duduk gw dan bokap nyokap kepisah. Gw terjebak di tengah-tengah, sebelah kanan tenaga kerja, sebelah kiri rombongan kakek-nenek tajir yang terlihat abis liburan dari Eropa. Uwow kontrasnya. Sempet ada ribut-ribut karena ibu tenaker di sebelah gw ternyata gak duduk di tempatnya, dia asal aja duduk di tempat kosong. Ibu tenaker laen yang harusnya duduk di sebelah gw semaput banget. Pramugari hari itu tidak seramah pramugari saat gw berangkat. Kakek-nenek tajir nampaknya mengira gw tenaker juga, jadi mereka mengacuhkan gw. Saat mengobrol, mereka pun tidak berbicara dengan bahasa Indonesia. Entah apa lah agak mirip Perancis tapi bisa jadi itu bahasa daerah. Sampai ketika sang Kakek ''kehilangan'' sepatunya. Pramugari udah dateng dan bingung ada masalah apaan sampe kakek-nenek ini heboh sampe berdiri-diri nyari sepatu. Sang nenek akhirnya bertanya,

''mbak, tolong lihat ada sepatu ga?'

weleh. Orang Indonesia toh, kirain gw orang Singapura. Voila! Gw berhasil menemukan sepatu si kakek yang nyelip di bangku belakang. Pramugari lega, kakek senang, dan si nenek mulai memberi gw senyum manis. Gw manfaatkan ini untuk berbasa-basi mengobrol (bosen gak ada temen ngomong).

"Abis dari Eropa, tante?"
"Iya, abis dari Swiss, Itali, sama Perancis. Dapet bonus pesiar dari Auto 200* rombongan 30 orang.''

Buset. Ini orang enak banget.

''Enak dong tante.. jalan-jalan..''
''Enak apaan... dingin banget..ingusan...tangan mati rasa..''

Ya tetep aje Nek jalan-jalan ke Eropa.

''Bosen saya makan telor, tiap hari makan telor sama bacon itu loh..''
Komentar si nenek saat lihat gw lahap memakan omelet (menu sarapan semuanya telor).

Dengan skill yang dimiliki tiap perempuan (feedback obrolan ''he eh, hoo, haa, ooh'') gw menanggapi semua cerita si ibu. Dia pun mengeluarkan kameranya dan memamerkan foto-foto dia di menara Eiffel, tempat ski di Swiss, dll. Gw pun ber ha-ooh-hoo-waah sambil komentar gak penting.

'''Saya nanti di Jakarta cuma sebentar, jam 8 malam saya mau ke Singapur buat check up.''
Gw cuma mengangguk-angguk sambil tersenyum.

Kontras lah pemandangan kanan-kiri gw. Yang satu sibuk mencari uang, yang satu uangnya udah banyak banget :p

Cengkareng

Gw menitikkan keringat lagi! Panas banget ye udaranya. Lagi-lagi diperlakukan nyolot sama petugas Indonesia (dia nyolot ke semua penumpang Indonesia sih). Berjuang mengambil bagasi sambil menahan emosi dari kelakuan orang-orang yang gak tahu kalo:

1. Kalo salah ngambil koper, mohon ditaro lagi di ban berjalan biar pemilik aslinya gak kebingungan karena kopernya ilang. Si pengambil lepas tanggung jawab gitu aja sedangkan gw sama bokap ngos-ngosan naro balik itu koper.

2. Harus sopan sama orang tua. Gak boleh nabrak pake troli sambil bilang ''Permisi dong Mbak'' dengan nyolot. Emak gw ditabrak TKW seumuran gw pake troli di tengah keramaian orang yang lagi nungguin koper. Bahkan dia gak minta maaf. Mamah semaput.

Tapi, kasian banget para TKW itu. Pas keluar bandara itu ada oknum-oknum yang memeras mereka minta uang! Entah apa alasannya (mama yang liat). Udah capek-capek nyari duit diambilin sama orang kemaruk kaya gitu! Duh langsung gw lempar pake tai onta deh kalo gw jadi TKW.

Fiuh. Begitulah, masih banyak peer nih buat pemerintah biar perempuan Indonesia yang kerja di luar negeri gak dilecehin sama orang luar, apalagi sama orang sebangsa!
 
design by suckmylolly.com